Hama dan Penyakit, Info Praktis
Okt15

Sejarah Pengendalian Hayati (Agensi Hayati)

0 komentar
Sejarah Pengendalian Hayati

Sejarah Pengendalian Hayati

Pengendalian dengan agensi hayati akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian di dunia pertanian, khususnya yang berkaitan dengan Hama dan Penyekit Tanaman (OPT)

Cara pengendalian dengan Agensi Hayati ini muncul karena kekhawatiran petani dan masyarakat, akibat penggunaan pestisida,.

Selain kekahawatiran terhadap penggunaan pestisida, penggunaan agensi hayati dalam mengendalikan hama penyakit tanaman, juga di dukung dengan permintaan produk pertanian yang sehat dan aman bagi konsumen.

Pengendalian dengan agensi hayati menjadi salah satu cara mengendalikan hama penyakit tanaman (OPT) yang harus di pertimbangkan.

Namun tau kah anda sejarah pengendalian hayati ini, yuk mari kita baca dan simak bersama..

Sejarah Pengendalian Hayati

Sejarah Pengendalian hayati di mulai pada tahun 1982 ketika Atkinson menemukan adanya keragaman keparahan penyakit Layu Fusarium,ternyata keragaman tersebut di pengaruhi oleh jenis tanah.

Selanjutnya pada awal tahun 1908, Potter menjumpai adanya penghambatan patogen tanaman oleh penumpukan hasil metabolitnya.

Pada tahun 1926, Sanford menemukan bahwa pupuk hijau ternyata dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kudis kentang. Pada saat itulah muncul dua konsep pengendalian hayati yaitu :

  • Bahwa mikroba saprofit dapat mengendalikan keaktifan patogen tanaman
  • Keseimbangan mikroba saprofit di dalam tanah tersebut dapat berubah,

Keseimbangan tersebut dapat berubah khususnya oleh adanya perubahan kondisi tanah, yaitu : Adanya penambahan bahan organik segar, hal ini menyebabkan adanya keaktifan mikroba dan penggandaan mikroba saprofit. Keaktifan ini di picu oleh adanya persaingan hara, Oksigen, dan Adanya ekspresi mikroba, yang akan menekan keaktifan dan penggandaan patogen.

Kemudian pada tahun 1927, Millaed dan Taylor menemukan bahwa penyakit kudis kentang, yang tumbuh pada medium tanah steril dan di inokulasi dengan Streptomyces dapat di kendalikan dengan meinokulasikan Streptomyces praecox.

Penemuan tersebut kemudian di pertajam oleh Sanford dan Broadfoot pada tahun 1931. Yang menginfeksi bibit gandum di tanah steril dengan Ophiobolus graminis.

Dan ternyata keberadaan patogen tersebut dapat di tekan secara lengkap oleh kegiatan antagonis jamur dan bakteri.

Pada saat itulah G.B Sanford dan W.C. Broadcast menerbitkan hasil penelitiannya tentang pengendalian hayati jamur penyebab “Take-All” pada gandum, yang di terbitkan dalam Phytopathology tahun 1926 dan untuk pertama kalinya di gunakan Istilah “ Pengendalian Hayati” dalam patologi tanaman.

Pengaruh artikel Sanford dan Broadcast sangat besar pada dunia patologi tanaman, yaitu berkembangnya cara pengendalian hayati dengan menggunakan mikroba antagonis.

Kemudian penelitian ke arah pengendalian hayati patogen tanaman, terutama yang bersifat tular tanah, mulai berkembang.

Pada tahun 1932, merupakan tahun ditemukannya konsep baru oleh peneliti kanada, henry, yaitu :

  • Suhu tanah yang berpengaruh terhadap penyakit “ Take-All” pada gandum dalam percobaan rumah kaca, ternyata sangat di pengaruhi oleh interaksi antar patogen dan mikroba tanah lainnya.

Pada Sejarah Pengendalian Hayati Penemuan konsep ini merupakan hasil tunggal terbesar dari analisis percobaan dan jenius, yang telah di tunjukan dalam bidang penelitian penyakit akar.

Sebelumnya pada pada tahun 1930 Fawcett, yang merupakan presiden Perhimpunan Fitopatologi Amerika, mempertajam adanya pengendalian Agensi Hayati, yang di sampaikan pada pidatonya

Yang Berjudul “ The Importance of investigations on the effect of known mixtures of organisms

Setelah pidato tersebut, seorang mahasiswa peneliti Fawcett. R. Weindling, menerbitkan artikel pertama yang sangat cerdas, tentang parasitisme Trichoderma viride terhadap jamur tanah lainnya.

Sejak saat itulah, perhatian terhadap pengendalian hayati makin terbuka lebar dan semakin banyak penelitian yang bermunculan, khususnya ke arah antibiotika di dalam tanah.

Selanjutnya hal ini di buktikan oleh Brian tahun1949 yang meneliti produksi antibiotika dalam tanah.

Argumentasi nya adalah :

  • Bahwa antibiotika merupakan suatu agensia efektif dalam persaingan antar-mikroba tanah di tanah alami.
  • Sisi persaingan akan merupakan senyawa dari jaringanatau hewan yang di koloni.
  • Kisaran pengaruh antibiotika dapat di hitung dalam satuan mikron

Pada tahun 1956, hal tersebut di temukan oleh Garret, yaitu :

  • Adanya sisi persaingan dan kisaran pengaruh antibiotika.

Pada tahun 1962, Pramer dan Starkey, melakukan penelitian tentang adanya pengaruh pentaaktifan di dalam tanah.

Pada tahun 1956,Wirght, dalam penelitiannya mampu menemukan glotoksin yang merupakan salah satu toksin terkenal dari Trichoderma viride.

Pada tahun 1945, Brian dan McGrowan menemukan antibiotika lain dari Trichoderma viride, yaitu viridin.

Hal ini sebelumnya di ilhami oleh simmonds, sallans, dan Ledingham. Pada tahun 1950 yang menjumpai adanya pengaruh fungistatis tanah terhadap perkecambahan konidium Helminthosporium sativum.

Pada tahun 1953, Chinn menggunakan bahan organik berupa menambahan 2% pakan kedelai ke dalam tanah untuk memicu antagonisme dalam tanah.

Pada tahun 1953, Dobbs dan Hinston, yang menambahkan glukosa < 0,1 % ke dalam tanah, mampu menghambat perkecambahan spora beragam jamur.

Pada tahun 1961, lingappa dan Lockwood membuktikan hipotesis Dobbs dan Hinston dengan menemukan pengaruh fungistatis tanah secara umum. Yaitu

  • Adanya senyawa toksin tertentu di dalam tanah yang menghambat yang menghambat senyawa tertentu di dalam tanah
  • Juga di duga bahwa spora jamur menyediakan substrat yang diekskresikan ke dalam tanah, yang dapat menghambat perkecambahan spora jamurdalam ketidaktersediaan perangsang senyawa yang cukup.

Pada tahun 1953, Thorton, menjumpai hifasfer dan hifa aktinomisetes yang tumbuh dekat di sekitar hifa Rhizoctonia solani.

Pada tahun 1957,Park, kemudian menunjukan bahwa argumen tentang pengaruh antibiotika tidak selamanya benar.

Ia menjumpai pada biakan murni bahwa penyebab utama kematian jamur tanah adalah autolisis pelaparan dan penuaan. Hal ini tampak jelas pada Omyctes, yang dapat mengakibatkan kematian dalam beberapa minggu setelah inokulasi pada biakan murni.

Pada tahun 1963, Garett, setelah lebih dari 12 tahun melakukan penelitian tentang tingkah laku saprofit jamur penginfeksiakar di dalam tanah, menyimpulkan bahwa persaingan saprofit terhadap senyawa yang cukup di dalam tanah memunculkan jamur tertentu yang berhasil bersaing, yang di kenal sebagai potensi inokulum, yang mempunyai kemampuan saprofit pesaing di permukaan tanah

Sebagai contoh diantara jamur busuk akar dan busuk kaki serealia, Ophiobolus graminis, Helminthosporium sativum dan Cercosporella herpotrichoides merupakan saprofit pesaing lemah.

Sampai sekarang ini, penelitian ke arah pengendalian hayati tetap banyak dan telah berhasil mengangkat beragam agensi pengendalian hayati beserta mekanismenya, baik secara konvensional maupun secara bioteknologi.

sekian catatan nuansatani.com kali ini… mengenai sejarah pengendalian hayati semoga bermanfaat…

Sumber : Ir. Loekas Soesanto, M.S.,Ph.D  Pengantar Pengendalian Hayati Penyakit  Tanaman, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta,2008.

Baca juga : Mengenal Lebih Dekat Agensi hayati

Tag:

Penulis: 

author

Posting terkait "Sejarah Pengendalian Hayati (Agensi Hayati)"

Tinggalkan pesan "Sejarah Pengendalian Hayati (Agensi Hayati)"