Budidaya, Info Praktis
Des30

Teknik Penanganan Pasca Panen Tanaman Padi

0 komentar
penanganan pasca panen tanaman padi

Penanganan Pasca Panen Tanaman Padi ( picture by : hcsgosuccess.wordpress.com )

Sahabat NuansaTani.Com Padi merupakan komoditas yang paling penting dan strategis karena sebagai bahan pokok bagi hampir untuk seluruh penduduk indonesia.

Sebagai bahan pokok , produksi padi sangat perlu untuk di amankan melalui penanganan pasca panen yang baik dan benar, tentunya hal tersebut dilakukan agar dapat menekan kehilangan/susut hasil dan mempertahankan mutu/kualitas gabah dan beras.

Bagaimana caranya ? Yuk kita simak dan baca bersama..

Adapun beberapa tahapan dalam penanganan pasca panen tanaman padi meliputi beberapa tahap kegiatan yaitu :

Penentuan Saat Panen

ketidak tepatan dalam menentukan saat panen dapat mengakibatkan susutnya hasil yang tinggi, dan juga mutu beras akan semakin rendah.

Penentuan saat panen harus dilakukan berdasakan pengamatan visual dan pengamatan teoritis

Pengamatan Visual dilakukan dengan cara melihat tampilan fisik tanaman padi pada hamparan lahan sawah , Umur panen tanaman padi yang optimal adalah 90 – 95 % butir gabah pada malai padi berwarna kuning keemasan.

Pengamatan Teoritis dilakukan dengan melihat deskripsi varietas padi dan mengukur kadar air dengan moisture tester.

Berdasarkan kadar air, umur panen tanaman padi yang optimum setelah kadar air mencapai 22 – 23 % pada musim kemarau, dan 24 – 26 % pada musim penghujan.

Pemanenan Padi

Ketidak tepatan dalam pemanenan tanaman padi dapat mengakibatkan susut hasil yang tinggi dan mutu yang gabah/beras yang rendah.

Alat dan mesin pemanenan yang digunakan harus memenuhi persyaratan teknis, ekonomis dan sosial, selain itu alat dan mesin pemanenan harus sesuai dengan jenis Varietas padi yang akan di panen.

Alat mesin panen yang sering di gunakan sebagai berikut :

  • Sabit bergerigi
  • Paddy Mower
  • Reaper
  • Paddy Combine harvester
  • Dan lain-lain

Sistem panen padi dilakukan dengan sistem beregu atau kelompok, panen dan perontokan dilakukan oleh kelompok panen, jumlah pemanen antara 5 – 7 orang yang dilengkapi dengan 1 unit pedal tresher atau 15 – 20 orangyang dilengkapi unit power tresher

Penumpukan dan pengumpulan hasil panen harus dilakukan dengan cara yang baik, penggunaan alas pada saat penumpukan dan pengumpulan hasil panen dapat menekan kehilanggan hasil sebesar 0,65 – 0,69 %.

Perontokan padi

Pada tahap perontokan padi dalam penanganan pasca panen tanaman padi, kehilangan hasil akibat ketidak tepatan dalam melakukan perontokan dapat mencapai lebih dari 5 %.

Alat dan mesin perontokan padi telah mengalami perkembangan dari gebotan/ menjadi pedal thresher bermotor atau power Thresher.

Adapun beberapa alat dan mesin yang biasa di gunakan pada penanganan pasca panen tanaman padi sebagai berikut :

  • Gebotan
  • Pedal Thresher Manual
  • Pedal Thresher Bermotor
  • Power Threser

Pengangkutan Gabah

Pengankutan gabah yang sudah dimasukan kedalam karung dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti, pengankutan menggunakan sepeda motor, alat angkut roda tiga, mobil pick up maupun sarana angkutan lainnya.

Pengeringan Gabah

Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air dalam gabah sampai mencapai batas tertentu sehingga gabah siap untuk diolah/digiling atau aman untuk disimpan dalam waktu yang lama.

susut hasil yang diakibatkan ketidak tepatan proses pengeringan dapat mencapai 2,0 %.

Adapun Pengeringan Gabah dapat dilakukan dengan dua cara diantaranya :

  • Penjemuran

Penjemuran merupakan proses pengeringan gabah dengan memanfaatkan panas sinar matahari.

sarana yang biasa digunakan dalam proses penjemuran seperti lantai jemur dari semen atau menggunakan alas dari terpal/plastik.

  • Pengering Buatan

adapun alat yang biasa digunakan dalam pegeringan buatan antara lain :

  • Flat Bed Dryer ( Pengering tipe datar)
  • Bed Dryer Automixing ( Pengering tipe datar dengan pengaduk Otomatis)
  • Vertical Dryer

Pengemasan dan Penyimpanan Gabah

Selain dikemas secara Curah, Gabah juga di kemas dalam karung yang memenuhi standar.

kemudian setelah itu lakukan penyimpanan sebagai tindakan untuk mempertahankan gabah agar tetap dalam keadaan baik dalam jangka waktu tertentu.

akibat yang di timbulkan dari kesalahan dalam melakukan penyimpanan gabah diantaranya, terjadinya respirasi, tumbuhnya jamur, serangga-serangga, binatang pengerat dan kutu beras yang dapat menurunkan mutu gabah.

adapun cara penyimpanan gabah yang dapat dilakukan antara lain :

Sistem Curah, yaitu gabah yang sudah kering dicurahkan pada suatu tempat yang dianggap aman dari gangguan hama maupun cuaca.

Cara penyimpanan mengunakan kemasan, atau wadah seperti karung plastik, karung goni, dan penyimpanan

Penggilingan Gabah

Penggilingan merupakan proses untuk menggubah gabah menjadi beras,

proses penggilingan gabah meliputi pengupasan sekam, pemisahan gabah, penyosohan, pengemasan dan penyimpanan.

Pengemasan dan Penyimpanan Beras

Adapun beberapa hal yang harus di perhatikan dalam pengemasan beras antara lain :

  • Beras hasil penggiliingan sebaiknya tidak langsung dikemas tunggu sampai sisa panas akibat penggilingan menghilang.
  • Jenis kemasan disarankan memperhatikan beras isi kemasan.
  • Faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis kemasan adalah kekuatan kemasan, dan bahan kemasan (tidak korosif, tidak mencemari, kedap udara )
  • Label kemasan beras hendaknya mencantumkan nama Varietas ( untuk menghindari pemalsuan )

Sekian Catatan NuansaTani.com kali ini, Teknik Penanganan Pasca Panen Tanaman Padi. semoga bermanfaat..

 

Tag:
Rating artikel ini!

Penulis: 

author

Posting terkait "Teknik Penanganan Pasca Panen Tanaman Padi"

Tinggalkan pesan "Teknik Penanganan Pasca Panen Tanaman Padi"