Budidaya
Jul28

Cara Budidaya Ciplukan, Buah Liar yang Kini Jadi Primadona

0 komentar

Cara Budidaya Ciplukan, Buah Liar yang Kini Jadi Primadona

Apakah Anda tahu buah ciplukan? Buah bulat yang diselubungi daun seperti tempurung yang sering tumbuh liar dan dianggap gulma oleh sebagian orang.

Cara Budidaya Ciplukan, Buah Liar yang Kini Jadi Primadona

Cara Budidaya Ciplukan, Buah Liar yang Kini Jadi Primadona

Tumbuhan yang dulu dianggap gulma tersebut sebetulnya sudah banyak dikenal hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Tumbuhan yang bernama latin Physalis Angulata ini dikenal dengan sebutan ciplukan (Jawa), yoryoran (Madura), cecendet (Sunda), kopok-kopokan (Bali), leletep (sebagian Sumatra), leletokan (Minahasa), Kenampok(Sasak), lapunonat (Tanimbar), daun kopo-kopi, daun loto-loto, padang rase, dagameme, angket, dededes, daun boba dan lain-lain.

Ciplukan merupakan tanaman semusim yang mempunyai tinggi sekitar 1 meter. Batang ciplukan berongga dan bersegi tajam.

Buah ciplukan terdapat di dalam bungkus kelopak yang menggelembung berbentuk telur berujung meruncing berwarna hijau muda kekuningan dengan rusuk keunguan. Buah buni di dalamnya berbentuk bulat memanjang berukuran antara 1,5-2 cm dengan warna hijau ketika masih mentah dan kekuningan ketika masak.

Tanaman ciplukan mengandung senyawa-senyawa aktif sepertisaponin (pada tunas), flavonoid (daun dan tunas), polifenol, fisalin, Withangulatin A, kriptoxantin, tanin,vitamin C dan gula(buah), asam palmitat dan stearat (biji), alkaloid (akar) dan Chlorogenik acid (batang dan daun).

Karena kandungan senyawa di atas, saat ini ciplukan banyak dimanfaatkan sebagai tanaman herbal.

Daun Ciplukan bermanfaat sebagai obat penyembuhan patah tulang, busung air, bisul, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut, dan kencing nanah.

Buah ciplukan sendiri sering dimakan langsung untuk mengobati epilepsi, sulit buang air kecil, dan penyakit kuning. Sementara itu, akar tanaman ciplukan dapat digunakan sebagai obat cacing dan penurun demam.

Karena kaya manfaat, kini buah ciplukan telah banyak dikonsumsi dan dijual di berbagai toko buah. Harga jualnya pun tak main-main, yakni antara Rp 250-500 ribu per kilogramnya.

Saat ini, banyak orang yang mulai mencoba untuk membudidayakan tanaman ini. Budidaya tanaman ciplukan dilakukan dengan memanfaatkan bibit hasil perbanyakan generatif dengan tahap sebagai berikut:

Persiapan dan Penyemaian Benih

Benih disiapkan dari buah ciplukan yang tua dan matang dari tanaman yang berumur lebih dari 2,5 bulan. Buah yang telah tua dan matang, bila dipijit dengan jari akan mengeluarkan daging buah yang lunak beserta bijinya. Biji ini digunakan sebagai benih yang siap disemai.

Penyemaian dilakukan untuk mengecambahkan biji-biji ciplukan. Tanah yang digunakan sebagai media persemaian harus berfisik halus dan gembur serta memiliki unsur hara yang cukup.

Penyemaian biji perlu ditutup dengan sungkup plastik untuk menekan penguapan air dari media semai, menghindari terpaan panas atau air hujan, serta mencegah serangan hama dan penyakit. Bibit yang berumur 1-1,5 bulan dengan tinggi 15 cm siap untuk dipindah tanam ke lahan.

Penanaman

Bibit ciplukan yang tumbuh di persemaian memiliki akar relatif sedikit, batang masih lunak, dan jumlah daun ± 8 lembar. Bibit ini memiliki kelemahan yaitu akar dan batangnya mudah rusak, dan setelah dicabut daunnya cepat layu. Oleh karena itu, bibit ciplukan tersebut perlu dipindahkan hati-hati dan setelah dicabut harus segera ditanam kembali.

Perawatan
Dalam hal perawatan, tanaman ciplukan tidak perlu penyiraman yang berlebihan, karena kebutuhannya terhadap air relatif sedikit.

Sedangkan untuk pemupukannya dapat dilakukan sebanyak dari dosis pupuk yang digunakan pada tanaman tomat.

Detail pemupukannya adalah sebagai berikut:

  • Pupuk Fosfor dan Kalium, diberikan pada lubang pertanaman sedalam penanaman bibit.
  • Pupuk susulan I, pupuk Nitrogen diberikan 14 hari setelah tanam. Pupuk ditaburkan pada alur yang dibuat di sekeliling tanaman dengan jarak sekitar 10 cm dari lubang tanam.
  • Pupuk susulan II, pupuk Nitrogen, yang diberikan 35 hari setelah tanam. Caranya sama dengan pemupukan susulan pertama.
  • Apabila budidaya ciplukan ditujukan untuk dipungut brangkasnya, maka dosis pupuk Nitrogen dapat ditingkatkan, sedangkan dosis pupuk Fosfat dan Kalium dikurangi.
  • Penggunaan pupuk pada tanaman ciplukan yang ditanam dengan sistem tumpang sari, disesuaikan dengan dosis pupuk yang digunakan bagi tanaman utamanya

Pemanenan

Tanaman ciplukan yang siap panen ditandai dengan kelopak bunga dan warna buah yang mulai menguning. Pada masa penen, satu batang pohon ciplukan mampu menghasilkan hingga 300 buah. Buah ciplukan dapat dipanen setiap 5-10 hari sekali.

Demikian hal-hal menarik dari  Cara Budidaya Ciplukan, Buah Liar yang Kini Jadi Primadona, Untuk memperoleh manfaatnya, Anda bisa mulai mencoba menanamnya di halaman rumah.

Referensi:

alamendah.org

infoagribisnis.com

cybex.pertanian.go.id

agroteknologi.web.id

Tag:

Penulis: 

author

Posting terkait "Cara Budidaya Ciplukan, Buah Liar yang Kini Jadi Primadona"

Tinggalkan pesan "Cara Budidaya Ciplukan, Buah Liar yang Kini Jadi Primadona"