Budidaya
Okt23

Budidaya Tanaman Padi SRI (System Of Rice Intensification)

0 komentar
Budidaya Tanaman Padi SRI (System Of Rice Intensification)

Budidaya Tanaman Padi SRI (System Of Rice Intensification)

Sistem intensifikasi padi atau dikenal dengan System Of Rice Intensification (SRI) merupakan alternatif yang menjanjikan terciptanya perubahan mendasar dalam budidaya tanaman padi di indonesia.

System Of Rice Intensification (SRI) ini diharapkan dapat merubah prilaku dan sikap dasar petani.

pateni yang terbiasa dengan pola subsisten (production Oriented) berubah ke arah yang lebih berorientasi keuntungan (benefit oriented).

Melalui SRI, petani diajak untuk memiliki pandangan bahwa dengan inovasi yang sederhana dan biaya yang tidak terlalu mahal, bercocok tanam padi mampu memberikan hasil yang maksimal, dan bahkan jauh lebih baik dari cara budidaya padi yang lama.

Metode SRI membuktikan bahwa produktivitas lahan sawah dapat meningkat.

Dengan kenaikan mencapai 16 – 30 % di bandingkan dengan teknik budidaya padi secara kovensional.

Banyaknya unsur lokal yang di manfaatkan dalam proses budidayanya, manjadi salah satu keunggulan dari System Of Rice Intensification (SRI) ini.

sehingga secara langsung akan menekan biaya produksi pada biaya yang lebih rendah.

Misalnya  sumberdaya lokal yang dapat di manfaatkan untuk mengganti kebutuhan pupuk an-organik.

seperti : jerami, sampah rumah tangga, gulma, sisa tanaman kebun, sumber nitrogen yang diperoleh dari hama keong, sisa makanan, dan lainnya.

Dengan demikian petani tidak akan ketergantungan terhadap produk pabrikan yang relatif mahal.

Teknik Budidaya System Of Rice Intensification (SRI)

System Of Rice Intensification (SRI) adalah cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien.

Dengan proses manajemen sistem perakaran yang berbasis pada pengolahan yang seimbang, terhadap tanah, tanaman dan air.

Dalam Prakteknya metode SRI yang dilakukan di Jawa Barat pada umumnya adalah hasil perpaduan gagasan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan gagasan SRI.

Sehingga dari dua gagasan tersebut dihasilkan usaha tani padi yang ramah lingkungan, baik dalam proses produksi maupun produk yang dihasilkan.

Untuk menerapkan Budidaya Tanaman Padi Secara SRI (System Of Rice Intensification) harus menerapkan tahapan sebagi berikut :

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah bertujuan untuk menggemburkan dan memperbaiki aerasi atau struktur tanah serta membersihkan gulma.

Tanah diolah dengan kedalaman 25-30 cm dan pada pengolahan ke dua masukan bahan organik (selain jerami) antara 5-7 ton/Ha.

Disekeliling atau di tengah petakan di buat parit sebagai sistem irigasi.

Kemudian biarkan tanah dalam kondisi lembab/tidak tergenang selama 7-10 hari.

Penggunaan Benih

Benih yang digunakan adalah benih yang sehat dan bernas atau benih bersertifikat,selanjutnya benih tersebut di seleksi melalui proses seleksi dengan air garam pekat.

Benih hasil seleksi yang digunakan adalah benih yang tenggelam.

selanjutnya rendam benih dalam air jernih selama 48 jam, lalu dianginkan selama 24 Jam.

Pesemaian

Persemaian dilakukan dengan menggunakan nampan plastik/pipiti (Besek) yang telah diberi alas berupa daun pisang yang sudah dilunakan/ plastik.

Kemudian masukan campuran kompos dan tanah dengan perbandingan 1 : 1 setebal 4 cm atau setengah dari tinggi Besek sebagai media tumbuh.

Banyaknya benih yang di taburkan per pipiti (15 cm x 15 cm ) adalah satu sendok makan atau untuk luasan 100 bata = 0.7 – 1 kg/Ha dan 4,9 – 7 kg/Ha.

Lalu benih ditutup dengan abu dan jerami.

Pada umur 3-5 Hari jerami diangkat , karena benih sudah mulai tumbuh, bibit siap di tanam setelah 5-10 hari.

Penanaman

Bibit yang ditanam adalah bibit muda dengan umur tanaman 7-10 hari setelah semai, bibit ditanam secara tunggal (satu tunas) sedalam 0,5-1 cm (dangkal) dengan posisi akar tenaman membentuk hurup L.

Pengaturan jarak tanam dengan menggunakan Sistem Jajar Legowo baik itu 2 : 1, 3 : 1, 4 : 1

Sistem Jajar Legowo yang di anjurkan adalah sistem Jajar Legowo 2 (2 : 1) yakni : 12,5 x 25 x 50cm atau 25 x 25 x 50 cm.

Pemeliharaan

Fase Vegetatif

  • Penyulaman dilakukan untuk mengganti bibit yang rusak, mati, atau tanaman yang memiliki pertumbuhan yang kurang baik.
  • Penyulama dilakukan apabila ada gangguan belalang,keong mas, orong-orong dan lain-lain
  • Penyiangan dilakukan setelah tanaman berumur 7-10 hari setelah tanam, dan di ulang setiap 10 hari sekali.
  • Pemberian Mikro Organisme Lokal (MOL) yang diarahkan kepada tanaman atau tanah pada umur tanaman 7-10 hari setelah tanam, dan lakukan sekurang-kurangnya 10 hari sekali sehingga dapat di aplikasikan 4-6 aplikasi.
  • Kondisi air tetap dalam keadaan basah/tidak tergenang ( kecuali pada saat penyiangan atau rambet)

Fase Generatif

  • Menjelang fase generatif, yaitu pada saat padi mencapai anakan maksimun (umur 45-50 Hst) kondisi air dikeringkan sehingga bagian tanah kering atau bahkan sampai kelihatan retakan, selama 10 hari
  • Setelah 10 hari, tanah diberi air kembali, sehingga tanah dalam kondisi lembab dan basah, pada fase ini disarankan untuk mengaplikasikan kembali Mikro Organisme Lokal (MOL).
  • Kondisi air seminggu sebelum panen dikeringkan (Ketika Mulai terlihat Bulir padi mulai bernas dan kuning)

Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

Pengendalian Orgenisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dilakukan dengan menerapkan perisip-perisip pengendalian hama terpadu dengan lebih menggutamakan pendekatan biologis yang ramah lingkungan, serta menghindarkan praktek-praktek pengendalian yang akan merusak dan mengganggu lingkungan.

Dalam pengendalian hama dan penyakit menggunakan metode metode pengendalian hama terpadu (PHT)

Budidaya Tanaman padi SRI (System Of Rice Intensification)

 Baca Juga : Prinsip 6 Tepat Penggunaan Pestisida

Paket teknologi budidaya kedelai

Teknik Budidaya Terong/Terung Ungu

 

Tag:

Penulis: 

author

Posting terkait "Budidaya Tanaman Padi SRI (System Of Rice Intensification)"

Tinggalkan pesan "Budidaya Tanaman Padi SRI (System Of Rice Intensification)"