Budidaya
Nov3

Cara Budidaya Buncis (Phaseolus vulgaris L) yang Praktis dan Mudah

0 komentar

Tanaman buncis yang memiliki nama latin Phaseolus vulgaris L merupakan tanaman sayuran polong yang berumur pendek / semusim.

Tanaman ini berasal dari amerika latin dan amerika tengah, lalu menyebar ke wilayah eropa dan asia.

Buncis memiliki 2 tipe pertumbuhan, yaitu :

  • tipe melilit/merambat
  • tipe tegak yang dapat dibudidayakan didataran rendah (200-300 mdpl).

Tipe tegak merupakan termasuk jenis yang direkomendasikan untuk ditanam.

karena tidak memerlukan lanjar/ turus sehingga biaya produksi yang dikeluarkan dapat ditekan/rendah.

Tanah yang cocok untuk budidaya buncis adalah jenis tanah andosol dan tanah regosol,

Tanaman buncis menghendaki tanah yang subur,gembur dan remah dengan pH tanah 5,5 – 6.

Teknologi Budidaya Buncis (Phaseolus vulgaris L)

Budidaya buncis terbagi menjadi 2 yaitu , Budidaya Buncis menggunakan lajaran/turus dan budidaya buncis yang tidak menggunakan lanjaran/turus.

yuk mari kita baca dan simak bersama..

Budidaya buncis menggunakan lanjaran/turus

Penyiapan Benih

Penyiapan benih merupakan langkah yang pertama dalam budidaya buncis.

Benih yang digunakan sebaiknya benih yang memiliki mutu,dan kualitas baik / benih yang bersertifikat.

Minimal benih memiliki daya tumbuh 80%, tahan terhadap OPT, seragam, tumbuh cepat dan merata, warna mengkilat, tidak tercampur dengan varietas lain,

Mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi tinggi.

Penyiapan lahan

Kegiatan penyiapan lahan yang dilakukan yaitu :

  • Penyiangan Gulma, dilakukan dengan cara mencabuti gulma dengan cangkul, tangan, atau menggunakan herbisida.
  • Penggemburan tanah, tanah dibajak dan dicangkul 1-2 x dengan kedalaman 20 – 30 cm, pada tanah yang berat pencangkulan dilakukan 2x dengan interval 2-3 minggu.
  • Pembuatan bedengan, disesuaikan dengan kondisi laha, lebar 100 – 120 cm, tinggi 20 cm – 30 cm, dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan, jarak antar bedengan 40 – 50 cm.
  • Untuk di pekarangan tidak perlu membuat bedengan,cukup menggunakan guludan dengan tinggi 10-15 cm, lebar 20-30 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan, jarak antar guludan 70 cm
  • Pemberian pupuk kandang/ pupuk kompos, diberikan sebanyak 15 – 20 kg per 10 m2.
  • Pupuk anorganik sebagai pupuk dasar Urea 200kg/Ha, TSP 600 kg/Ha dan KCL 120 kg/Ha.
  • Pemupukan diberikan disepanjang larikan.

Penanaman

Dalam budidaya buncis, jarak tanam yang digunakan adalah 20x 50 cm.

Namun apabila tanah cukup subur jarak tanam yang digunakan 20 cm x 40 cm.

Lubang tanam dibuat dengan cara ditugal sedalam 4 cm – 6 cm untuk tanah remah dan gembur, sedangkan untuk jenis tanah liat ditugal sedalam 2 – 4 cm.

Setiap lubang tanam di isi 2-3 butir benih kemudian lubang di tutup kembali.

Pemeliharaan Tanaman

Dalam pemeliharaan tanaman meliputi kegiatan sebagai berikut :

Penyiraman,dilakukan pada saat tanaman buncis berumur 1 – 15 Hst, pada musim kemarau disiram sekali sehari, dan pada musim hujan penyiraman dilakukan jika diperlukan.

Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 14-21 hari, pupuk yang di berikan hanya urea 200 kg/ ha dengan cara ditugal kurang lebih 10 cm dari tanaman.

Pengguludan, dilakukan pada saat buncis berumur 20 hst dan 40 Hst dan sebaiknya dilakukan saat musim penghujan.

Pemasangan lanjaran/ Turus, pada tanaman buncis tipe merambat, memerlukan turus/lanjaran untuk mendukung pertumbuhannya,

Pemasangan turus dilakukan saat tanaman buncis berumur 20 Hst, turus/lanjaran dibuat dari bambu dengan ukuran 2 m dengan lebar 4 cm.

kemudian di tancapkan dekat tanaman buncis di dekat tanaman sebanyak 2 batang yang berhadapan, kemudian di ikat pada bagian ujung atasnya.

Pemangkasan, bertujuan untuk memperbanyak ranting sehingga diperoleh buah buncis yang banyak,

pemangkasan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 dan 5 minggu, dengan memangkas bagian pucuk tanaman.

Pengendalian Hama dan penyakit

Beberapa Hama yang biasa menyerang tanaman buncis adalah :

  • Kumbang daun (Epilachna signatipennis)
  • Lalat kacang ( Agromyza phaseoli )
  • Penggerek polong (Etiella zinckenella)

Beberapa penyakit yang biasa menyerang tanaman buncis antara lain :

  • Penyakit layu (Pesudomonas solanacearum)
  • Penyakit antraknosa (Collectotricum Iindenuthainum)

Pengendalian hama penyakit tersebut berdasarkan pengendalian hama terpadu (PHT), dengan memadukan teknik-teknik pengendalian yang ramah lingkungan.

Adapun penggunaan pestisida berdasarkan 6 tepat prinsip penggunaan pestisida.

budidaya buncis

budidaya buncis (picture by : jokowarino.id)

Budidaya buncis tidak memerlukan tanjar/turus.

  • Tanah di gemburkan, setelah digemburkan , dibuat gundukan setinggi 75 cm lebar 59 cm, jarak antar guludan 75 cm, panjang disesuaikan kondisi lahan dan kebutuhan.
  • Pupuk kandang diberikan seminggu sebelum tanam, sebanyak 1 – 2 ton/ha diberikan dengan cara ditabur diatas guludan
  • Lubang tanam dibuat dengan cara ditugal, dengan jarak tanam 50 x 20 cm, setiap lubang di beri 2 butir benih, kemudian tutup kembali dengan tanah.
  • Pupuk KCL dam TSP diberikan bersamaan dengan penanaman, perbandingan keduanya 1 : 1 dengan dosis 150-200 kg/ha tergantung kesuburan tanah, kemudian disebar disekitar lubang tanam.
  • Pemberian pupuk Urea setelah tanaman berumur 1 minggu dan 1 bulan sebanyak 150 – 200 kg/ha setiap pemupukan, dengan cara di benamkan dalam tanah sekitar 5- 10 cm.
  • Penyiraman dilakukan tergantung pada kondisi tanah, musim kemarau dilakukan 2-3 kali seminggu/setiap hari, musim hujan 1-2 kali dalam seminggu.

Panen

Panen dapat dilakukan setelah tanaman buncis berumur 60 Hst, setiap 2 – 3 hari sekali agar di peroleh tingkat kenatangan dan polong yang seragam, panen dilakukan dengan cara dipetik.

Pasca Panen

Kegiatan yang dilakukan pada pasca panen meliputi :

  • Sortasi, dilakukan dengan membuang atau memisahkan buncis yang cacat akibat serangan OPT atau buncis yang patah akibat panen yang kurang baik.
  • Pengepakkan, dilakukan dengan karung goni/untuk pengiriman jarak jauh sebaiknya menggunakan peti kayu yang diberi lubang angin untuk memudahkan pergantian udara dan pengangkutan.
  • Pengangkutan, untuk menjaga supaya hasil panen tidak cepat rusak sebaiknya alat pengangkutan memiliki pendingin terutama untuk pengangkutan jarak jauh.
  • Penyimpanan, dapat dilakukan dengan sistem pendingin, dengan suhu 0-4,4o C atau 32-40o F dengan kelembaban 85-90 %, ruang penyimpanan memiliki sirkulasi udara agar tetap segar.

Sekian catatan NuansaTani.com kali ini, Panduan budidaya buncis semoga bermanfaat…

Baca Juga : Budidaya Sayuran Secara vertikultur Teknik Budidaya Terong/terung ungu Paket Teknologi Budidaya Kedelai

Tag:

Penulis: 

author

Posting terkait "Cara Budidaya Buncis (Phaseolus vulgaris L) yang Praktis dan Mudah"

Tinggalkan pesan "Cara Budidaya Buncis (Phaseolus vulgaris L) yang Praktis dan Mudah"